Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Kenapa Kehidupan kampus Mengerikan

 

Saya kuliah kebidanan program D3 yang artinya kuliahnya selama 3 tahun atau 6 semester.

Saat itu, Maret 2019. Semester 6. Lagi padat-padatnya praktik lapangan di rumah sakit sambil menyusun laporan tugas akhir.

Ada tiga rumah sakit tempat praktik. Sebut saja RS A, RS B, dan RS C. Seruni di RS A. Kebetulan saya tidak satu tempat praktik dengan Seruni.

Singkat cerita, teman-teman di RS A sudah mengetahui bahwa Seruni hamil dan juga latar belakang kehidupannya. Seruni memiliki adik. Status ekonominya menengah ke bawah. Kedua orang tuanya sudah bercerai.

Sejak kapan, sama siapa, gimana kejadiannya, anaknya mau diapakan, berapa usia kehamilannya? Bla bla bla. Itulah kira-kira yang mereka tanyakan.

Intinya, seruni hamil sudah kurang lebih 8 bulan. Dia having sex dengan pacarnya. Seruni sudah berniat akan melakukan aborsi. Alasan dia sering memakai jaket akhir-akhir itu adalah untuk menutupi perutnya yang membuncit.

Memang mereka ini sangat menyayangkan perbuatan Seruni. Tapi hanya sebatas itu. Tidak ada satupun komentar yang menyudutkannya.

Mendapat dukungan sebesar itu, akhirnya Seruni memutuskan untuk tidak jadi melakukan aborsi. Geng RS A jadi antusias dengan kehamilan Seruni. Meraba-raba perutnya, memeriksa keadaannya, mendengar detak jantung janinnya, memantau gerakan janinnya. Pokoknya, Seruni sudah kembali ceria lagi.

Seruni sudah titip pesan kepada geng RS A supaya masalah ini jangan banyak yang tahu lagi. Apalagi dosen. Benar-benar nggak boleh tahu.

Namanya masalah seperti ini, rasanya mulut gatal sekali ingin bercerita. Apalagi mahasiswa kebidanan isinya perempuan semua.

Berawal dari, "eh, tau gak?"

Kabar ini berembus cepat ke tempat praktik lain. Dalam waktu singkat, satu angkatan sudah mendapat kabar ini.

Reaksi kita semua kurang-lebih begini:

Hah? 8 bulan? Udah besar banget itu.

Dari semester 5 dong? Berarti, waktu lagi KKN dia udah hamil?

Terus, kebutuhan makan selama hamilnya gimana? Tercukupi nggak?

Waktu gejala hamil mudanya gimana? Kan pasti susah tuh.

Duh, kenapa nggak pake kondom, sih? Dia kan bidan. Atau nggak minimal pakai kontrasepsi darurat gitu.

Ya Allah, udah semester 6 ini. Bentar lagi lulus.

Bisa bayangin gak sih? 8 bulan nahan semua itu sendirian. Kok, bisa? Apa yang membuat dia kuat? Dan kita sebagai teman kampusnya sama sekali nggak ada yang sadar *emot nangis*

Daaan, Seruni akhirnya tahu kalau kita semua sudah tahu masalahnya.

Seruni stres lagi. Dia menangis meraung-raung di kosannya sampai menjedotkan kepalanya ke tembok di depan teman-temannya. Memang di geng RS A itu ada satu orang yang menceritakan perihal ini ke temannya yang praktik di RS lain. Ya bocor sudah. Pokoknya kacau. Semuanya saling menyalahkan. Bahkan, Seruni kembali berniat ingin mengaborsi kandungannya. Gila aja kan udah trimester 3, hamil tua malah diaborsi. Ternyata semakin banyak yang tahu tentang kehamilannya, justru itu yang membuat dia semakin tertekan.

Satu orang tadi sangat merasa bersalah dan meminta maaf kepada Seruni karena sudah tidak menepati janjinya untuk tidak menceritakan masalah ini kepada siapapun.

Singkat cerita, semua dosen sudah tahu. Sebenarnya berawal dari kegelisahan kita sebagai temannya menganggap bahwa masalah ini butuh solusi segera. Rasanya sudah tidak mungkin soal ini dipendam lebih lama. Sepertinya lebih cepat mereka tahu akan lebih baik. Akhirnya, beberapa mahasiswa di geng RS A tersebut melapor kepada salah satu dosen. Kemudian, para dosen berunding untuk mencari solusinya. Diputuskanlah bahwa Seruni tidak boleh melakukan aborsi dan akan diberikan cuti, kuliah kembali semester depan dan langsung menyusun tugas akhir. Cita-citanya sebagai bidan harus tertunda untuk sementara. *Menghela napas*

Praktik lapangan pun selesai. Kami kembali fokus ke laporan tugas akhir masing-masing. Seruni cuti.

Selama Seruni cuti, dia tetap bertukar kabar dengan kita-kita. Sebenarnya karena Seruni merasa teman seangkatannya tahu soal ini, dia tidak lagi malu menceritakan masalahnya karena teman-teman dan seluruh dosen "ternyata" menyayangi dan selalu memberinya semangat.

Dia dibantu oleh salah satu dosen untuk menyelesaikan masalah ini dengan pacar dan orang tuanya. Orang tuanya sudah jelas marah. Seruni tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan pacarnya. Padahal, pacarnya ini sudah mau bertanggung jawab. Siap kalau disuruh untuk menikahi Seruni.

Singkat cerita, Seruni tinggal di salah satu rumah dosen yang membuka praktik mandiri untuk memantau keadaannya. Dia akan tinggal di sana sampai melahirkan dan rencananya persalinannya akan ditolong oleh dosen tersebut.

Sebentar lagi, anaknya Seruni lahir. Kami semakin antusias. Heboh ingin melihat proses persalinannya. Anaknya laki-laki atau perempuan ya. Berat badannya berapa ya. Mirip Seruni atau tidak ya. Bahkan, ada dosen yang bilang begini…

"Ibu nggak sabar liat cucu ibu"

*Emot nangis*

Beberapa hari mendekati kelahirannya, Seruni mengabari di grup angkatan minta doanya menghadapi proses persalinan.

*Emot nangis lagi*

Beberapa hari setelahnya, beberapa dari kami menjenguknya di klinik.

Sebulan setelah melahirkan ia masih tinggal di sana, kemudian pindah untuk tinggal bersama pacarnya, yang kini suaminya.

Teman dekatnya sampai menjenguk ke tempat tinggalnya dan berfoto bersama. Banyak yang ingin menjenguknya tapi karena lokasinya jauh, jadi hanya titip salam.

Setelah kondisinya pulih, Seruni sempat mampir ke kampus. Saya dan teman-teman yang lain kebetulan bertemu dengannya di kantin.

"Seruniiiii!!!" sapa kita sambil dadah-dadah.

Yang saya ingat dari percakapan itu adalah,

"Eh, gue ngasih susu formula loh," ucap Seruni.

"Heh, gimana sih lo! Lo kan bidan. Bukannya kasih ASI!"

Semuanya heboh menyoraki Seruni. Lalu, kita terbahak bersama-sama.

Ah, indahnya. Momen ini so sweet banget. Benar-benar lega mengetahui kondisi Seruni "baik-baik saja" setelah ia melalui hal yang berat kemarin. Memang sih nggak ada yang tahu di belakang sana Seruni bagaimana. Tapi setidaknya dia mencoba untuk "terlihat" baik-baik saja.

Jujur, saya tidak pernah berekspetasi dosen dan teman seangkatan akan bersinergi menyemangati Seruni sebegitunya. Ada sih yang julid dengan berkomentar jahat. Tapi itu hanya 3%! Sisanya benar-benar tulus bersimpati pada Seruni. 3% itu jelas kalah. Masih lebih banyak yang peduli dengan Seruni. Pasti dia juga terharu banget. Tidak menyangka bahwa ternyata tidak di-judge sedemikian rupa. Tidak mendapat sanksi sosial sama sekali. Saya pikir, Seruni akan dikeluarkan dari kampus atau bagaimana. Kami sebagai teman-temannya khawatir dengan kuliahnya. Ini benar-benar sudah di ujung loohhh. Tinggal sidang, yudisium, wisuda. Kenapa cobaannya berat banget sih tingkat akhir? Rasanya wajar jika kami mengkhawatirkan itu.

Saya benar-benar belajar banyak dari ini. Kok bisa ya kita menerima kabar soal Seruni dengan baik? Malah happy banget. Seruni yang awalnya takut di-bully, ternyata salah besar! Malah bisa saja kan kita baik di depan Seruni, di belakangnya malah jahat. Tapi nggak sama sekali!

Sikap dosen juga. Malah baik banget banget banget. Persalinannya ditolong dosen pula! Lucu. Menarik. Langka. Yang kita bahkan berpikir dosen akan memaki-maki dia atau setidaknya mendapat sanksi lah. Ternyata nggak juga.

Menurut saya, kenapa kita bisa bersimpati dengan keadaan Seruni adalah karena kita kuliah kebidanan. Dalam menghadapi klien yang memiliki masalah yang sama seperti Seruni, kita terbiasa belajar dan dituntut untuk tidak mengorek penyebab masalahnya, tapi memberikan solusi. Kita menganggap bahwa Seruni adalah klien kita. Terlebih dia teman sendiri. Makin besarlah dukungan untuknya. Jadi, menyuruhnya aborsi adalah bukan solusi yang tepat.

Di sisi lain, mungkin karena kita sudah berpikiran terbuka dan lebih dewasa, ketika mengetahui masalah itu justru berusaha bersimpati, berempati, dan mengambil sisi positifnya. Rasanya nggak mudah jadi posisinya. Memang yang dilakukannya itu tidak benar. Tapi apa boleh buat. Kita harus fokus ke depan. Membantunya sebisa mungkin apa yang bisa dibantu. Yang dibutuhkannya hanyalah dukungan. Kesalahannya biarlah dia sendiri yang menanggung. Kita tidak perlu nambahin "bumbu"nya.

Seruni ini orangnya baik. Kocak, suka bercanda, dewasa, aktif dalam berbicara (baca: cerewet) tapi dalam arti positif. Menyenangkan lah pokoknya, kalau ada dia rame. Kita sayang banget sama Seruni.

Untuk mengakhiri kisah mengharukan ini, berikut saya beri cuplikan status whatsapp Seruni waktu lalu.

Mei 2019.

"Masih gak nyangka dengan kebaikan anak angkatan **. Rasa simpati dan empati kalian luar biasa ke aku. Terima kasih."

Saya reply: "love yuuuuu"

Seruni: "Wkwkwk Hannaaa. Hanna makasih ya, baju gamisnya menutupi aku saat hamil waktu itu. Sekarang masih aku pake kok."

Jadi waktu itu saya pernah meminjamkan Seruni gamis sebelum dia hamil. Tapi sudah beberapa bulan dia belum sempat untuk mengembalikannya. Akhirnya, saya putuskan gamisnya diberikan untuk dia saja.

Rasanya seneeeeeng banget dia bilang gitu. Jadi pengen meluk sambil nangis. Seruni, kamu hebat.

Memang sih, kayaknya ini keliatan cerita fiksi banget alias nggak mungkin, atau "masa sih?"

Tapi beneran terjadi, guys.

Edit: saya bikin cerita ini kan izin terlebih dahulu ya ke Seruni langsung, saya udah deg-degan aja takut dia nggak suka atau malah marah-marah gitu, wajar saja kan. Tapi ternyata nggak wkwkwk. Tulisan saya di-acc dengan beberapa koreksi dari dia. Yeay.

Doakan Seruni dan keluarganya supaya sehat dan baik-baik di manapun dia berada, ya!

Posting Komentar untuk "Alasan Kenapa Kehidupan kampus Mengerikan"